10
SINTO GENDENG KELUAR SARANG
GUDANG besar penyimpanan berbagai m£
terial bangunan dalam keadaan sepi. Saati itu
semua pekerja sedang istirahat makan. Di pintu
gudang memang ada seorang penjaga tapi asyik
membaca buku porno hingga tidak menyadari
kalau seorang berpakaian aneh telah
menyelinap masuk ke dalam gudang.
Pangeran Matahari duduk di atas susunan;
= Page 98 =
kaleng-kaleng besar berisi cat tembok,
terlindung di balik timbunan kantong semen. Dia
tak habis pikir atas kejadian yang barusan
dialami. Begitu mudah orang mencuri sebuah
benda yang disimpannya dalam saku mantel.
Apakah dia telafl kehilangan ilmu kesaktian?
Rahangnya menJ gembung. Seharusnya dia
merasa malu bahkai) terpukul oleh kejadian itu.
Tapi dasar manusia dijuluki "Pangeran segala
cerdik segala akal, segala ilmu, segala licik,
segala congkak," walau kesal namun sikapnya
tenang-tenang saja. Hanya dalam hati dia
berkata.
"Tua bangka keparat pengamen itu. Dia pasti
bukan manusia biasa. Siapa dia sebenarnya?
Tokoh berkepandaian tinggi yang menyamar?
Bukan mustahil kemunculannya ada sangkut
paut dengan Pendekar Tahun 2000 yang
dikatakan guru. Jangan-jangan dia kaki tangan
Sinto Gendeng."
Dalam soal berpikir, kecerdikan dan
penggunaan akal Pangeran Matahari memang
hebat. Dia sudah bisa menduga kalau kakek
pengamen punya hubungan dengan. Sinto
Gendeng.
Baru saja Pangeran Matahari berkata dalam
hati tiba-tiba seorang bertangan kiri buntung,
bungkuk, berpakaian rombeng dengan wajah
sepucat kain kafan, muncul di hadapannya. Dua
= Page 99 =
mata yang terpuruk angker pada rongga dalam
memandang penuh marah pada sang Pangeran.
"Guru!" kaget Pangeran Matahari bukan
kepalang ketika dia mengangkat kepala dan
melihat siapa adanya orang tua itu. Buru-buru
dia berdiri lalu membungkuk memberi hormat.
"Murid tolol! Kecongkakanmu hari ini amblas
dalam comberan!" Begitu membuka mulut orang
tua yang bukan lain adalah Si Muka Bangkai
alias Si Muka Mayat menyemprot kasar.
Pangeran Matahari tentu saja sudah tahu
sebab apa si orang tua mendampratnya begitu
rupa. Tapi dasar licik panjdng akal dia berpura-
pura terkejut dan heran.
"Guru, gerangan apa sampai membuatmu
marah besar seperti ini? Murid menduga jangan-
jangan...."
Dari tenggorokan Si Muka Bangkai keluar
suara menggembor pertanda dia benar-benar
marah sekali.
"Pangeran goblok! Tutup mulutmu!”
Dibentak atau dihardik bagi Pangeran
Matahari bukan soal.. Tapi dimaki Pangeran
goblok membuatnya sakit hati. Kalau yang
memaki bukan gurunya saat itu juga pasti sudah
dirobek mulut atau dipecahkannya kepalanya.
Rahang menggembung, pelipis bergerak-gerak.
Pangeran Matahari menatap tajam wajah sang
= Page 100 =
guru.
"Untung aku berlaku waspada. Kalau tidak
Batu Penyusup Batin itu akan lenyap selama
lamanya."
"Guru, maafkan diriku. Apakah guru telah
menemukan kembali batu sakti itu? Batu itu aku
taruh dalam saku mantel. Tapi lenyap dicuri se
orang kakek pengamen."
"Selama ini kau terlalu sombong, terlalu
congkak...."
"Guru, tunggu dulu!" tiba-tiba Pangeran
Matahari berkata.
"Murid kurang ajar! Beraninya kau memotong
ucapanku!" hardik Si Muka Bangkai.
Pangeran Matahari tidak perduli. "Apa kau
lupa, guru? Bukankah kau sendiri ikut menanam
kan semua sifat itu di dalam diriku ketika kau
menggembleng aku di puncak Merapi?"
Dua mata Si Muka Bangkai yang ada dalam
rongga cekung seperti mau melompat keluar.
"Dasar kampret!"
"Kampret?!" Pangeran Matahari melotot
heran.
"Waktu dulu kau kutemukan di desa Sleman,
itu sebutan yang aku berikan padamu. Setelah
puluhan tahun berlalu ternyata kau masih saja
= Page 101 =
manusia kampret!"
Pangeran Matahari menatap muka pucat
sang guru, melirik pada tangan kirinya yang
buntung lalu tertawa gelak-gelak. (Untuk
mengetahui riwayat Pangeran Matahari harap
baca serial Wiro Sableng berjudul "Pangeran
Matahari")
Di pintu gudang, penjaga asyik membaca
buku porno turunkan buku yang dipegangnya,
memandang ke dalam gudang.
"Siapa yang tertawa...?" tanyanya dalam hati.
Dia turun dari tumpukan balok kayu, masuk
sampai beberapa langkah ke dalam gudang,
memperhatikan ke segala penjuru. Dia tidak
melihat siapa-siapa. Bulu kuduknya mendadak
merinding. "Jangan-jangan setannya si Tukijan,"
katanya dalam hati. Lalu cepat-cepat dia keluar
dari dalam gudang. Tukijan adalah buruh ba-
ngunan yang mati akibat kecelakaan sebulan
lalu. Jatuh dari tingkat empat gedung yang
tengah dibangun.
"Pangeran Matahari, kau dengar baik-baik.
Sejak kecil sifat segala licik, congkak sombong
bahkan kejam telah ada dalam dirimu! Mungkin
karena kau merasa diri sebagai seorang
Pangeran.
Mungkin juga itu sudah warisan darah daging
dari. orang tuamu!"
= Page 102 =
"Aku tidak pernah ingat siapa orang tuaku.
Aku tidak pernah kenal mereka sejelas aku
melihat dua telapak tanganku!" kata Pangeran
Matahari sambil memandang ke atas ke arah
atap seng gudang.
"Tidak heran! Tidak heran kalau kau juga
tidak tahu siapa dirimu sendiri!" tukas Si Muka
Bangkai yang membuat merah padam tampang
Pangeran Matahari. "Kecongkakan dan
kesombonganmu semakin berlipat ganda
setelah kau mewarisi semua ilmu kepandaian
dariku! Tapi hari ini semua akal licik,
kesombongan dan kecongkakanmu, seperti
kataku tadi, amblas dalam comberan ketololan!
Batu biru yang kuberikan padamu lenyap dicuri
orang. Dan tololmu lagi, kau menganggap si
pencuri adalah manusia biasa, pengamen tua
bangka! Kau tahu siapa orang itu?"
Tenang saja Pangeran Matahari gelengkan
kepala.
"Dia adalah mahluk berkepandaian tinggi,
tersesat dari negeri seribu dua ratus tahun
silam. Di negeri sana dia dikenal dengan nama
Si Pelawak Sinting. Di dunia sini dia muncul
sebagai kaki tangan Sinto Gendeng! Nenek
keparat dari Gunung Gede itulah yang telah
memperalatnya untuk mencuri Batu Penyusup
Batin yang ada dalam saku mantelmu!"
"Aku memang sudah menduga," kata
= Page 103 =
Pangeran Matahari sambil rangkapkan dua
tangan di depan dada. "Tapi tadi guru berkata
bahwa berkat kewaspadaan guru, batu sakti itu
tidak...."
"Batu yang asli! Batu Penyusup Batin yang asli
memang masih ada padaku! Yang kuberikan
padamu hanya batu tiruan. Batu kaivinanl Kalau
saja aku tidak berlaku cerdik melakukan hal itu,
batu yang asli sudah amblas dibawa kabur."
"Batu kawinan, aku tidak mengerti maksud
guru," kata Pangeran Matahari pula.
"Dalam keadaan seperti sekarang ini,
membawa batu asli tanpa mampu menjaganya
adalah sangat berbahaya. Banyak mata bisa
melihat, banyak tangan jahat bisa mengambil.
Itu sebabnya, batu yang asli aku ikatkan ke batu
tiruan. Selama satu minggu aku bersamadi.
Kesaktian yang ada dalam Batu Penyusup Batin
yang asli mengalir ke dalam batu tiruan. Namun
kekuatannya hanya dua tiga hari saja. Batu
tiruan itulah yang aku berikan padamu."
"Kalau begitu, guru, apakah kau masih punya
banyak batu tiruan?" tanya Pangeran Matahari.
"Kampret besar!" maki Si Muka Bangkai.
"Syukur...." ujar Pangeran Matahari.
"Eh, apa maksudmu berkata syukur?!" tanya
sang guru.
= Page 104 =
"Dulu aku dibilang kampret kecil. Sekarang
sudah jadi kampret besar. Salahkah kalau aku
bersyukur?"
Si Muka Bangkai mendelik besar lalu tertawa
gelak-gelak.
Di depan pintu gudang kembali si penjaga
tersentak kaget.
"Suara tertawa," katanya dalam hati. "Tapi
suaranya berbeda dengan yang pertama tadi...."
Untuk memeriksa kembali ke dalam gudang dia
merasa takut. Penjaga ini tinggalkan tempat itu
mencari teman-temannya.
"Pangeran Matahari, aku tidak membawa
batu tiruan. Aku punya cara lain untuk
membuatmu bisa menyusup ke dalam tubuh
seseorang.
Kekuatan dan kemampuannya lebih lama
dibanding batu kawinan. Mendekat ke sini."
Pangeran Matahari melangkah maju
mendekati sang guru. Kakek bungkuk masukkan
tangan kanannya ke balik baju rombeng. Sesaat
kemudian di tangan kanan itu tampak sebuah
benda memancarkan cahaya biru. Itulah Batu
Penyusup Batin asli yang diterimanya dari
gurunya Eyang Kunti Api. Dengan mulut
berkomat-kamit membaca mantera Si Muka
Bangkai usapkan Batu Penyusup Batin ke kepala
dan muka muridnya. Usapan turun ke leher,
= Page 105 =
dada, perut, dua paha dan dua kaki.
"Pejamkan matamu," perintah si kakek.
Pangeran Matahari pejamkan dua mata. Si
Muka Bangkai tempelkan batu sakti di kening
muridnya, di bawah ikat kepala kain merah.
Kembali dia berkomat kamit membaca mantera.
Saat itulah sang murid berkata.
"Guru, apakah kau mencium bau sesuatu?"
Tadinya Si Muka Bangkai hendak membentak
marah karena ucapan Pangeran Matahari
membuyarkan pemusatan perhatiannya. Tapi
ketika mengendus, dia memang membaui
sesuatu. Bau yang membuat jantungnya
berdetak keras dan tampangnya berubah
membesi. Bau pesing!
Karena sang guru tidak keluarkan jawaban,
Pangeran Matahari perlahan-lahan buka
sepasang matanya. Begitu mata dibuka, pada
saat itulah dari atas tumpukan kantong-kantong
semen di ujung kiri gudang, berkelebat satu
bayangan disertai menebarnya bau pesing yang
amat santar. Mendahului kelebatan bayangan
yang laksana terbang, melesat dua buah senjata
rahasia memancarkan cahaya putih.
"Guru! Awas serangan!" teriak Pangeran
Matahari. Cepat dia dorong dada Si Muka
Bangkai hingga kakek ini terjengkang jatuh.
Dalam kejutnya Batu Penyusup Batin yang
= Page 106 =
tadi ditempelkan di kening Pangeran Matahari,
tidak sempat digenggam kembali oleh Si Muka
Bangkai. Bersamaan dengan terjengkangnya
tubuhnya, batu yang terlepas dari pegangannya
itu ikut mental ke udara. Selagi Pangeran
Matahari membungkuk selamatkan diri dari
serangan dua senjata rahasia, sosok yang
melayang membuat gerakan berjumpalitan dua
kali berturut-turut, lalu menukik turun. Sambil
turun orang ini hantamkan kaki kirinya ke
punggung Si Muka Bangkai. Bersamaan dengan
itu tangan kanannya menyambar Batu Penyusup
Batin yang mental ke udara!
"Batu Penyusup Batin!" teriak Si Muka
Bangkai yang saat itu terkapar di lantai gudang.
Dia berusaha bangkit tapi roboh kembali.
Tendangan orang telah meremukkan tulang
punggungnya hingga selain menahan sakit luar
biasa kakek muka mayat ini juga kehilangan
keseimbangan.
Cepat sekali, begitu berhasil menangkap Batu
Penyusup Batin orang di atas sana kembali
membuat gerakan kilat, melesat ke arah celah
besar di dinding atas ujung kiri gudang.
"Bangsat berani mati!" teriak Pangeran
Matahari. Dalam keadaan setengah terduduk di
lantai dia hantamkan tangan kanannya. Sesaat
udara terasa redup. Lalu tiba-tiba berkiblat sinar
kuning, hitam dan merah. Menderu panas dan
= Page 107 =
ganas ke arah orang yang berkelebat di atas
sana. Jangankan tubuh manusia, tembok
bajapun akan hancur dihantam pukulan sakti
itu. Karena pukulan yang dilepaskan Pangeran
Matahari adala salah satu pukulan sakti paling
ditakuti dalam rimba persilatan yaitu Pukulan
Gerhana Matahari
Namun sasaran yang dihantam telah lebih
dulu lolos di balik celah dinding gudang. Begitu
Pukulan Gerhana Matahari melabrak dinding
gudang yang terbuat dari seng, tak ampun lagi
dinding itu hancur berantakan. Kepingan-
kepingan seng melesat tinggi ke udara
terbungkus nyala api. Bukan itu saja. Hawa
panas pukulan sakti membakar seluruh dinding
gudang yang masih utuh. Api merambat dengan
cepat, berkobar ganas karena dalam gudang itu
tersimpan berbagai bahan mengandung kimia
antara lain cat. Lalu di salah satu sudut terdapat
beberapa tabung gas yang biasanya
dipergunakan untuk mengelas. Kebakaran besar
serta merta menggegerkan kawasan itu.
Pangeran Matahari cepat menolong gurunya.
"Kita harus pergi sebelum api lebih besar.
Sebelum orang-orang masuk ke tempat ini!" kata
sang murid.
"Tunggu," jawab Si Muka Bangkai. Dia
melompat ke lantai di depan tumpukan tinggi
kayu triplek. Di lantai itu menancap dua buah
= Page 108 =
senjata rahasia yang tadi menyerang Pangeran
Matahari. Si Muka Bangkai mencabut dua benda
itu. Ketika diperhatikan, mukanya berubah
kelam. Ternyata benda itu adalah dua buah
tusuk konde perak.
"Tusuk konde perak! Siapa lagi pemiliknya
kalau bukan keparat Sinto Gendeng!"
Si kakek keluarkan suara menggerung.
Amarahnya bukan kepalang. Lebih lagi begitu
dia ingat bahwa si nenek itu juga yang tadi telah
merampas Batu Penyusup Batin.
"Nenek keparat itu. Dia keluar dari sarangnya.
. Kalau tidak segera dicegah, bahaya besar akan
mengancam diriku dan para tokoh golongan
hitam."
--oo0dw0oo--
11
BUKAN TRIPING BUKAN NGEPRIT
PULANG sekolah hari itu Boma dan teman-
temannya kecuali Gita Parwati kumpul di warung
bakso Mang Asep. "Heran” kata Boma. "Siapa
yang usil punya mulut kayak kompor dua belas
sumbu. Hampir semua anak Nusantara Tiga
udah pada tau kejadian Allan tripping. Malah
katanya ada guru yang juga udah tau. Gila
banget!"
= Page 109 =
Ronny langsung memandang pada Vino. "Vin,
kau yang liat Allan tripping. Kamu yang ceritain
sama kita-kita. Kamu ceritain sama anak lain
nggak."
"Sumpah Ron! Aku nggak cerita sama siapa-
siapa," jawab Vino.
"Mungkin kita perlu ngomong lagi sama Gita,"
berkata Rio sambil memperhatikan Ronny
mengeluarkan bungkusan rokok dari tasnya.
"Ron, lu jangan gila. Emang sih udah bubaran
sekolah. Tapi jangan ngacok berani ngerokok di
sini." Andi mengingatkan.
"Mulut gue asem banget!" jawab Ronny.
"Kalau asem kumur-kumur sono sama air
cucian mangkok baksonya Mang Asep." kata
Boma.
"Sial!" Ronny masukkan kembali rokoknya ke
dalam tas. Lalu bertanya. 'Bom, waktu kamu
ketemu Gita, 'tu anak bilang apa?",
"Katanya Allan bukan bangsa anak begituan.
Jangan kan tripping, nenggak minuman keras
aja nggak, ngerokok juga nggak. Malah dia
bilang Vino ngarang."
"Wah, kalau gitu gua musti ikutan ngomong
sama dia," kata Vino. "Buktinya sekarang kok
udah dua hari si Allan nggak masuk-masuk."
"Aku rasa dia pindah sekolah gara-raga yang
= Page 110 =
beginian juga. Ketauan ngeprit." Ucap Firman.
"Bisa jadi," menyahuti Andi.
"Besok kalau Si Allan masih belon masuk, aku
mau ngomong lagi sama Gita. Di, kau sama Vino
musti ngelacak. Siapa yang punya mulut jahil
sampai kejadian ini bocor. Bukan cuma anak-
anak kelas lain yang tau, tapi juga guru."
"Kalau ngomong sama Gita, kamu musti hati-
hati Bom," kata Ronny.
"hati-hatinya?"
"Belakangan aku liat 'tu anak sering ngela-
mun. Nggak mau gabung sama kita-kita.
Kelihatannya jadi sensitip. Gampang
tersinggung..."
"Mungkin lagi mens 'kali," kata Vino.
"Perempuan kalau lagi dateng bulan sifatnya
kadang-kadang 'kan aneh-aneh!"
"Sok tahu lu Vin!" sembur Andi. "Kayak lu
udah pernah ngalamin mens aja!"
"Sialan! Emangnya gue cewek!" jawab Vino.
Semua anak tertawa riuh.
SIANG itu, waktu jam istirahat, Kelas II-9 sepi.
Di dalam kelas hanya ada Gita Parwati duduk
sendirian. Asyik membaca majalah. Boma berdiri
di sudut pintu, memperhatikan. Dia menduga
= Page 111 =
Gita tahu kalau dia berdiri di situ
memperhatikan, tapi pura-pura terus membaca.
Ronny dan teman-teman yang berdiri di ujung
kelas sebelah luar memberi isyarat agar Boma
segera masuk dan bicara dengan Gita. Boma
akhirnya masuk ke dalam kelas.
"Asyik banget Git, pasti majalah porno," Boma
menegur. Sengaja memancing dengan ucapan
seperti itu untuk melihat reaksi Gita.
"Enak aja lu," jawab Gita. "Liat dulu!" Gita
mengangkat majalah yang dibacanya,
memperlihatkan cover depan. Ternyata sebuah
majalah pelajar bahasa Inggris.
"Git, aku mau ngomong," kata Boma.
"Aku udah tahu. Ngomong aja..."
"Gimana kabarnya Allan?"
"Baik."
"Baik? Kok masih nggak masuk?"
"Baik bukan berarti sehat 'tau."
"Beneran sakitnya apa sih?" tanya Boma lagi.
"Mana aku tau Bom. Tanya sama dokternya
atau sama ortunya."
"Kamu 'kan sering kesana."
"Siapa bilang?" Gita angkat kepala dari
majalah yang dibacanya, menatap Boma
= Page 112 =
sebentar lalu kembali memandang ke majalah di
atas meja.
Boma merapatkan badannya ke samping
meja. Lalu pegang lengan Gita. Dia merasakan
denyutan cepat sekali pada urat nadi di lengan
temannya ini.
"Git,, jujur aja. Kau tau si Allan itu ngeprit?".
"Itu lagi yang diomongin. Kemarin aku udah
bilang. Dia bukan bangsa cowok gituan Bom."
Gita menjawab, tapi melengos, tidak berani
memandang mata Boma.
"Aku nggak ada maksud apa-apa Git. Kita 'kan
teman. Aku kasian sama kamu, sama Allan."
"Buat apa ngasianin orang kayak aku Bom?
Tapi ya makasih untuk pengasianannya," jawab
Gita.
"Git, keadaan mungkin tidak seperti yang
kami duga. Tadi pagi aku liat orang tua Allan
menemui Kepala Sekolah."
"Biar aja. Biar jelas semuanya..."
"Kamu ngebelain Allan nggak tanggung-
tanggung. Memangnya kamu cintrong banget
sama dia?" tanya Boma.
Gita diam. Tatapannya ke wajah Boma seperti
ingin menyampaikan suara hatinya. Ketika
akhirnya anak perempuan ini menjawab,
= Page 113 =
suaranya terdengar perlahan.
"Habis, siapa sih yang suka sama aku Bom?
Gendut, item. Jelek begini. Allan selalu meratiin
aku. Memang sih dia nggak pernah bilang
sayang sama aku. Tapi aku tau perasaan kami
sama."
Boma terdiam. Hatinya sangat tersentuh.
Perasaan haru biru merenyuh lubuk kalbunya
Ditowelnya hidungnya. Lalu dilihatnya ada air
mata meggelinding jatuh dari tanggul kelopak
mata anak perempuan itu. Kalau sudah begini
Boma jadi tidak tahan.
"Bom...."
"Udah Git, nanti kita ngomong lagi. Kalau
ketemu Allan bilang salam dari teman-teman."
"Aku tau kamu dan teman-teman semua
baik..." Gita menyeka air matanya. "Bom..."
Tapi Boma sudah keluar dari dalam kelas.
--oo0dw0oo--
KETIKA lonceng tanda jam pelajaran
berikutnya dimulai, yang masuk ke dalam Kelas
II-9 bukannya guru Fisika, tetapi guru bahasa
Inggris Ibu Renata.
"Selamat siang Bu," anak-anak satu kelas
memberi salam.
"Selamat siang," jawab Ibu Renata. Sejak
= Page 114 =
sakit ini kali pertama dia masuk ke Kelas II-9.
Badannya agak susut sedikit namun tidak
mengurangi kecantikannya. Sesaat dia
memandang berkeliling, memperhatikan bangku
yang kosong, bangkunya Allan. Lalu melirik ke
sudut kelas sebelah kiri di mana Boma duduk.
Firman yang duduk di sebelah Boma langsung
berbisik.
"Boma, kamu dilirik sama Ibu Renata..."
"Kamu 'kali yang dilirik, bukan aku." Jawab
Boma. Dua anak ini sama-sama menutupi mulut
menahan tertawa.
"Sudah sembuh 'Bu?" Tiba-tiba seorang anak
bertanya.
Ibu Renata anggukkan kepala, tersenyum
sedikit dan sekilas kembali melirik ke sudut kiri
kelas.
"Sakitnya apa sih Bu?" seorang anak lain
bertanya.
Yang menjawab teman di belakangnya. "Ah,
mau tau aja sakitnya Ibu Renata. Emangnya
kamu dokter?"
"Dukun, kali!" menimpali suara anak
perempuan. Yang bicara ternyata adalah Si
Centil Sulastri, anak baru pindahan dari
Semarang. Suara tawa terdengar di mana-mana.
Ibu Renata juga tertawa walau kelihatan agak
= Page 115 =
dipaksakan.
"Anak-anak, saya mewakili Wali Kelas II-9
yang hari ini berhalangan hadir. Saya
meneruskan permintaan dari Bapak Kepala
Sekolah, Bapak Nugroho, untuk menyampaikan
pesan atau pemberitahuan. Hal ini sehubungan
dengan sakitnya teman kalian Allan."
Sampai di situ Ibu Renata berhenti sebentar.
Apa yang barusan dikatakannya menimbulkan
berbagai dugaan di hati dan benak anak-anak
Kelas II-9. Banyak dari anak-anak itu mengira^
setelah diketahui tripping di sekolah Allan akan
dikeluarkan atau minta keluar. Itu sebabnya pagi
tadi ayah Allan datang menemui Kepala Sekolah.
Hampir semua mata ditujukan pada Gita. Anak
perempuan ini hanya bisa tundukkan kepala
sambil mencungkil-cungkil kuku jari tangannya.
"Anak-anak..." Ibu Renata meneruskan
ucapannya. "Sebelumnya pada Kepala Sekolah
telah masuk laporan bahwa Allan diketahui
tripping di sekolah..."
"Siapa yang melapor Bu?" Tiba-tiba ada yangi
bertanya. Boma.
Ibu Renata memandang ke sudut kiri Kelas; II-
9. Dia menatap ke arah Boma sebentar lalu
mengalihkan pandangan ke jurusan lain seraya
berkata. "Siapa yang melapor tidak perlu kalian
ketahui. Yang penting kalian ketahui adalah
= Page 116 =
bahwa Allan sama sekali tidak melakukan
tripping. Dia tidak minum obat terlarang..."
Kelas II-9 sesaat dicekam kesunyian. Semua
anak seperti tidak percaya mendengar kata-kata
Ibu Renata itu. Ketika banyak mata diarahkan
kembali pada Gita Parwati, anak-anak di bangku
terdekat saling berbisik.
"Liat, si Gita nangis..."
Saat itu Gita Parwati duduk menundukkan
kepala. Sehelai sapu tangan dipergunakan
menutupi sebagian wajah, terutama sepasang
matanya.
"Memang ada yang melihat Allan menelan
sesuatu, minum segelas Aqua lalu goyang-
goyang kepala di sekolah. Tapi saat itu
sebenarnya dia bukan sedang tripping. Bukan
menelan ecstasy. Melainkan minum obat. Obat
dari dokter. Di dapat berdasarkan resep dokter.
Anak-anak, Kepala Sekolah minta saya
menyampaikan, memberi tahu pada kamu
bahwa Allan sejak lama menderita penyakit
epilepsi..."
Epilepsi apa-an sih Di," tanya Rio yang duduk
di sampingnya. "Sipilis ya?"
Andi menutupi mulutnya menahan ketawa.
"Epilepsi aja nggak tau. Anak sekolah malu-
maluin. Ngakunya kelas dua lagi..."
= Page 117 =
"Gue 'kan bukannya dokter!" Rio jadi sengit.
"Epilepsi sama dengan ayan. Tau nggak?!"
Diberi tahu Rio cuma ngangguk sambil
monyongkan mulut.
"Kalian mungkin banyak yang tidak tahu
penyakit ini. Sebab dan jenisnya bermacam-
macam. Allan rentan terhadap udara pengap,
terutama di tempat-tempat ramai, rentan
terhadap stres. Penyakitnya bisa kambuh tidak
terduga. Ketika ada yang melihat dia menelan
sesuatu dan meneguk Aqua, sebenarnya dia
tengah minum obat dokter. Jadi anak-anak,
sekali lagi saya menyampaikan pesan Kepala
Sekolah. Allan bukan pecandu obat terlarang.
Dia tidak pecandu ecstasy atau obat apapun.
Sekarang dia masih istirahat di rumah. Kita
doakan agar dia segera masuk sekolah lagi..."
"Amin!" beberapa anak mengamini.
Saat itulah Boma, Firman dan Andi, disusul,
Ronny dan Rio mendatangi Gita yang seseng-*1
gukan di bangkunya. Anak-anak lain melakukah
hal yang sama. Gita dikerubungi. Anak-anak
perempuan menciumnya. Termasuk Sulastri.
Trini satu-satunya anak perempuan yang hanya
tegak tertegun dan tak beranjak di bangkunya.
Boma pegang tangan Gita dengan tangan
kanan. Tangan kiri mengusap punggung anak
perempuan itu.
= Page 118 =
"Git maapin aku Git. Maapin juga teman-
teman. Tadinya kami udah nyangka yang nggak-
nggak sama Allan..."
Sesenggukan Gita berubah jadi tangis
mengharukan. Dia mengangkat kepalanya,
menurunkan sapu tangan yang menutupi dua
matanya sedikit. Diantara isakannya anak
perempuan ini berkata.
"Bom, sebenarnya aku sudah tau lama
sakitnya Allan. Tapi aku mau bilang sama kalian
nggak tega. Akibatnya dia dituduh tripping..."
"Sekarang udah nggak lagi Git," kata Ronny.
Ibu Renata sesaat masih berdiri di depan
kelas memperhatikan semua simpati yang
diberikan anak-anak pada Gita. Kemudian dia
memberi isyarat pada Boma. Melihat isyarat ini
Boma datang mendekat.
"Ibu manggil saya?" tanya Boma.
"Selesai sekolah, kamu Ibu tunggu di kantor."
"Baik Bu."
"Jangan lupa."
"Iyya Bu."
Ketika anak-anak yang' mengerumuni Gita
bubar dan Boma kembali ke bangkunya, kini
Boma yang mereka kerumuni.
= Page 119 =
Ronny bertanya.
"Ibu Renata ngomongin apa sama kamu?"
"Pulang sekolah dia suruh aku datang ke
kantor."
"Ngapain?" tanya Firman.
"Nggak tau," jawab Boma sambil menowel
hidung. "Yang jelas sikapnya dingin. Belum
pernah aku liat Ibu Renata seperti itu."
"Jangan-jangan dia tau kita pada kasak-kusuk
curiga sama si Allan," kata Vino.
"Kalau memang begitu berarti kamu yang
dipanggil Vin, bukan Boma. Kamu yang pertama
kali ngeliat Allan, nyangka dia lagi tripping," kata
Andi pula.
Boma menowel hidungnya. "Kayaknya ada
soal lain yang mau diomongin Ibu Renata. Tapi
aku nggak tau soal apa."
Semua anak memandang pada Boma. Ronny
hendak mengatakan sesuatu tapi saat itu guru
Fisika sudah masuk ke dalam kelas.
--oo0dw0oo--
12
SUMPAH BOMA - AIR MATA IBU RENATA
HUJAN turun rintik-rintik ketika Boma
melangkah seorang diri menuju Kantor Sekolah.
= Page 120 =
Di Ruang Tamu Kepala Sekolah beberapa orang
guru duduk bercakap-cakap. Mereka kemudian
meninggalkan tempat itu sebelum hujan
berubah lebat. Ketika berpapasan, Boma segera
memberi hormat.
Di Ruang Guru Ibu Renata duduk seoran diri
di belakang meja sambil menulis. Dia ber henti
menulis ketika melihat Boma muncul di ambang
pintu.
"Selamat siang Bu," Boma memberi salam.
Ibu Renata menjawab dengan anggukan kepala.
Wajahnya tidak cerah seperti biasa mungkin
karena habis sakit. Sikapnya masih kelihatan
dingin. Guru Bahasa Inggris ini menunjuk ke
bangku di depan mejanya, memberi isyarat agar
Boma duduk di situ.
Boma duduk.
Ibu Renata meneruskan menulis sesuatu lalu
meletakkan bolpen di atas meja, melipat kertas
yang barusan ditulis, memasukkan ke dai am
tas.
"Boma."
"Ya Bu."
"Kamu masih ingat. Waktu di kelas satu saya
pernah ngajak kamu sama-sama nonton film...."
"Ya Bu, saya ingat," jawab Boma.
= Page 121 =
"Saat itu kamu menolak."
Boma mengangguk. "Benar Bu," katanya
kemudian.
Ibu Renata diam.
Boma memberanikan diri bertanya. "Ibu
marah saya menolak?"
"Film yang saya mau lihat itu bukan cuma
bagus. Tapi banyak kesamaannya dengan
kehidupan saya...." Guru Bahasa Inggris itu diam
kembali. Lalu gelengkan kepala. "Tidak, saya
tidak marah kamu menolak. Yang saya tidak
menduga dan benar-benar marah, mengapa
kamu menyebarkan, memberi tahu orang lain
bahwa saya pernah mengajakmu nonton."
Boma tercengang. Ditatapnya wajah cantik
Guru Bahasa Inggris itu.
"Bu, saya nggak pernah cerita sama siapa-
siapa kalau Ibu ngajak saya nonton."
"Jangan dusta Boma. Kamu menyebar
omongan...."
"Sumpah Bu. Saya nggak pernah nyebar-
nyebar omongan begitu...."
Dalam wajah yang tetap dingin Ibu Renata
tunjukkan air muka tidak percaya. Matanya
mulai merah. Dia berusaha keras membendung
tangis. Tapi isakannya tak tertahankan lagi. Dua
telapak tangannya ditutupkan ke mukanya.
= Page 122 =
Bahunya bergoncang turun naik.
"Saya tidak menyangka seburuk itu budi
pekertimu. Kalau kau tidak suka. sama Ibu,
jangan ceritanya disampaikan sama orang lain."
"Sumpah Bu," kata Boma. "Jangan bersumpah
Boma. Saya paling benci pada orang yang suka
mengangkat sumpah tapi ternyata palsu...." "Bu,
saya...." "Tidak mungkin Boma. Tidak mungkin.
Waktu kita bicara pada akhir jam pelajaran hari
Sabtu itu, hanya kita berdua di dalam kelas.
Tidak ada orang lain. Tidak ada siapa-siapa. Lalu
bagaimana ceritanya jadi tersebar kalau bukan
kamu sendiri yang melakukan? Saya malu
sekali. Malu sekali Boma. Mungkin, mungkin
saya terpaksa minta berhenti mengajar di
sekolah ini. Saya akan keluar...."
"Jangan Bu. Jangan minta berhenti. Jangan
keluar," kata Boma.
Ucapan polos anak ini membuat air mata
yang sejak tadi terbendung menggelinding jatuh
ke pipi putih Ibu Renata. Isak tangis perempuan
ini semakin keras. Boma memandang ke arah
pintu.
Dia takut saat itu ada guru atau orang lain
yang melihat.
"Bu, bagaimana Ibu tau kalau saya menyebar
cerita itu? Ada yang melapor?" Boma tiba-tiba
ajukan pertanyaan.
= Page 123 =
"Kamu tidak perlu tau siapa yang memberi
tahu, siapa yang melapor. Pak Nugroho Kepala
Sekolah tadi pagi memanggil saya. Dia tau cerita
itu karena katanya sudah tersebar di antara
anak-anak sekolah, di antara para guru. Kamu
tahu apa yang Pak Nugroho bilang?"
Boma menggeleng.
"Kamu mau tahu?"
Boma tak berani menjawab.
"Pak Nugroho bilang apa yang saya lakukan
sangat tidak pantas. Seorang guru perempuan
mengajak muridnya menonton! Bukan saja
merupakan satu tindakan yang keliru, tapi juga
merusak image guru."
Ibu Renata menyeka air mata yang semakin
banyak bercucuran.
Boma mulai bingung. Dia bangkit dari bangku.
Hendak dipegangnya tangan Ibu Renata. Dia
takut. Akhirnya ditowelnya hidungnya sendiri lalu
melangkah keluar Ruangan Guru. Di pintu anak
ini hentikan langkahnya dan membalik. Untuk
beberapa lamanya dipan-danginya Guru Bahasa
Inggris itu. Sikap dingin masih belum pupus dari
wajah perempuan muda itu.
"Pergi Boma, pergilah...." kata Ibu Renata
sambil melambaikan tangan menyuruh Boma
pergi.
= Page 124 =
Tapi Boma tidak beranjak dari tempatnya
berdiri.
"Ibu Renata, sekali lagi saya sumpah. Saya
tidak berbuat sejahat itu."
Ibu Renata geleng-gelengkan kepala.
"Kalau sumpah saya palsu, biar saya nggak
selamat."
Habis berkata begitu Boma menowel
hidungnya sampai tiga kali lalu membalikkan
badan, melangkah cepat-cepat meninggalkan
Ruang Guru.
Setelah Boma keluar dari ruangan guru, Ibu
Renata masih tertegak di belakang meja.
Ucapan Boma terngiang di telinganya.
"Kalau sumpah saya palsu, biar saya nggak
selamat."
"Berani sekali. Seberani itu dia bersumpah,"
kata Ibu Renata dalam hati.
--oo0dw0oo--
BOMA berjalan sambil memukul-mukulkan
tinju kanannya ke dalam telapak tangan kiri.
"Ajie Gilel" Kenapa jadi begini urusannya?
Musti gua selidikin siapa yang punya kerjaan!"
Saat itu Boma ingin sekali ada kawan-
kawannya yang masih belum pulang. Ingin sekali
dia menceritakan apa yang barusan dibicara-
= Page 125 =
kannya dengan Ibu Renata. Mungkin dengan
menyampaikan hal itu dadanya bisa lega,
perasaannya bisa tenang. Namun baik Ronny,
Firman, Vino, maupun Andi dan Rio, tak satupun
yang ada di sekolah. Semua sudah pulang.
Boma berdiri di pintu gerbang sekolah. Suara
deru motor yang bising membuat dia berpaling.
Guru Olahraga Bapak Sanyoto lewat dengan
sepeda motor yang bocor kenalpotnya.
"Siang Pak," kata Boma sambil anggukkan
kepala.
Mungkin tidak melihat, mungkin juga tidak
mendengar salam anak muridnya, Guru
Olahraga itu lewat saja tanpa menjawab hormat
Boma.
"Nggak denger sih mungkin," kata Boma jadi
kesal karena penghormatannya seolah tidak
diacuhkan. "Budek sih mungkin. Soalnya 'tuh
motor udah kayak suara speed boat aja. Tapi
buta jelas nggak. Rugi gua ngasih hormat.
Sialan! Tapi udahlah. Buat apa aku pikirin."
Borna menowel hidungnya.
Langit semakin gelap. Hujan rintik-rintik
berubah lebat. Boma tutupi kepalanya dengan
tas, melangkah tinggalkan pintu gerbang
sekolah. Tapi langkahnya tertahan ketika di
belakangnya ada suara deru mobil. Menoleh ke
belakang sebuah Suzuki Katana putih meluncur
= Page 126 =
perlahan. Di belakang kemudi duduk Ibu Renata.
Hujan lebat turun mendera. Boma masih
tegak di pintu gerbang berpayung tas sekolah.
Suzuki
Katana lewat di sampingnya. Saat itu ingin
sekali Boma melihat Ibu Renata menurunkan
kaca jendela kiri Suzuki Katana, ingin sekali
mendengar Guru Bahasa Inggris itu
menyapanya.
"Boma, ayo ikutan sama saya...."
Namun harapan itu hanyalah suara hati Boma
Tri Sumitro sendiri. Suzuki Katana meluncur
melewatinya. Boma baru sadar dan beranjak
dari pintu gerbang sekolah setelah sekujur tubuh
dan pakaiannya basah kuyup.
HONDA Tiger merah berhenti di ujung gang
"Di sini aja Ron. Nggak usah masuk," kata
Boma. Begitu motor berhenti Boma segera
turun.
"Aku juga males masuk Bom. Takut didamprat
kakek tetangga kamu itu. Dikit-dikit mau
ngeguyur kepala gua sama air kencing. Padahal
gue rasa 'tu kakek boro-boro kencing, kentut aja
udah nggak bisa!"
Boma tertawa lebar mendengar ucapan
Ronny Celepuk.
"Besok hari Minggu gimana?" tanya Ronny
= Page 127 =
"Jadi ke rumah Allan?"
"Boleh, tapi awas lu, jangan keliwat siang Janji
pagi dateng siang, siang dateng sore. janji
malem bisa-bisa lu dateng subuh."
Ronny menyengir. Boma lambaikan tangan.
Anak ini tengah berjalan ke tukang rokok
diseberang jalan untuk membeli Gudang Garam
Filter pesanan ayahnya ketika tiba-tiba dari arah
belakang sebuah Toyota Hardtop berhenti. Dua
orang keluar dari sebelah depan, tiga lainnya
melompat dari bagian belakang kendaraan.
Boma yang mendadak mendapat firasat tidak
enak, cepat menyeberang, melangkah ke arah
tembok tinggi sebuah bangunan. Karena mau
berbalik dan masuk ke gang. Di mulut gang
sudah dihadang dua dari lima orang yang
barusan turun dari jip. Anak lelaki ini sekarang
ingat. Toyota jip itu sebelumnya mengikuti dia
dan Ronny lalu lenyap di satu tikungan jalan.
Tahu-tahu kini muncul di belakangnya. Dugaan
Boma tidak keliru. Dia mendengar ada suara
seseorang berkata.
"Bener dia Fred! Sayang temannya udah
pergi!"
Fred. Boma ingat. Itu nama lelaki berewok
yang memukulinya di toilet Gramedia. Dan suara
orang yang barusan bicara sama dengan suara
temannya si berewok. Boma mencapai tembok,
= Page 128 =
membalik. Lima orang berdiri di hadapannya. Si
berewok di tengah-tengah.
"Jagoan tengik! Gua mau liat kehebatan lu
sekali lagi!" si berewok membuka mulut. Dia
memberi isyarat dengan gerakan tangan. Empat
orang temannya, dua di kiri dua di kanan tanpa
banyak bicara langsung menyerbu Boma.
Perkelahian tidak seimbang segera terjadi.
Walau mampu melayangkan tinjunya
beberapa kali dengan telak ke arah lawan
namun dengan cepat Boma terdesak. Lebih-
lebih setelah si berewok ikut membantu empat
temannya.
Pedagang rokok yang melihat kejadian itu
berteriak kaget. Tapi kembali masuk ke dalam
kios rokoknya dengan ketakutan ketika dua
orang penyerang mengancam.
"Berani macem-macem gua bakar kios lu!"
ancam salah seorang pengeroyok.
Darah mengucur dari hidung dan mulut
Boma. Kakinya mulai goyah. Ketika satu jotosan
melanda perutnya dan satu tendangan
menghajar tulang kering kaki kirinya, anak ini
langsung roboh.
"Abisin! Bikin mampus!"
"Jangan dibunuh Fred! Nanti jadi urusan!"
"Bunuh! Urusan belakangan!" kata si berewok.
= Page 129 =
Lalu dia mengeluarkan sebilah belati dari
pinggangnya, diserahkan pada salah seorang
temannya.
Pada saat itulah -seperti kejadian di toilet
toko buku Gramedia- Boma tiba-tiba merasakan
ada hawa dingin di tengkuknya. Tubuhnya
bergeletar panas. Nafasnya seperti membara.
Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat ke
atas. Lima orang yang mengeroyoknya sama
terkejut. Dua orang berlaku lengah. Tinju Boma
bersarang di hidung lelaki sebelah kanan.
"Praakk!"
Orang ini meraung keras. Tulang hidungnya
pecah. Darah mengucur deras.
Korban kedua muntah darah ketika
tendangan Boma mendarat di dadanya. Orang
ini langsung jatuh terduduk, mengerang
kesakitan beberapa lamanya lalu susah payah
berusaha berdiri.
Lelaki yang memegang belati tusukkan
senjata di tangan kanannya ke perut Boma.
Nasibnya tak kalah jelek dari dua temannya.
Tinju kanan Boma menyodok ulu hatinya. Orang
ini megap-megap sambil pegangi perut.
Belatinya jatuh entah ke mana. Boma melompat.
Tangan kiri dihantamkan ke kening orang.
Seekor burung putih, entah dari mana
datangnya, terbang di atas tempat terjadinya
= Page 130 =
perkelahian lalu hinggap di cabang pohon dekat
kios rokok.
Sesaat lagi tangan kiri Boma akan
menghantam batok kepala orang yang tadi
hendak menikamnya dengan belati, tiba-tiba
Boma merasa ada yang mencekal lengan kirinya.
Bersamaan dengan itu ada suara berkata.
"Anak setan! Kau membunuh orang dengan
tangan mautmu? Apa kau lupa telapak tangan
kirimu ada tanda silang, tanda kematian? Apa
kau lupa tangan kirimu sudah kuisi ilmu
kesaktian?!"
Boma terkejut. Dia memandang ke kiri dan
kanan. Dia tak melihat orang yang bicara. Anak
ini mencium bau pesing. Dia coba berontak. Tapi
tak mampu lepaskan diri dari cekalan tangan
yang tak kelihatan.
Boma kemudian mendengar seseorang
berteriak.
"Fred! Cabut Fred!"
Lima orang pengeroyok berhamburan naik ke
atas Toyota Hardtop. Kendaraan itu tancap gas,
lenyap dalam beberapa detik saja.
Boma tersurut mundur ketika di depannya
kelihatan satu sosok samar bungkuk sementara
bau pesing tercium makin santar. Sosok samar
perlahan-lahan kelihatan semakin nyata. Boma
= Page 131 =
tambah tersurut.
"Nek...." Boma mengenali. Nenek hitam
bermuka kulit pembungkus tulang dengan lima
tusuk konde di atas batok kepalanya. Nenek
inilah yang menolongnya sewaktu ditimpa
malapetaka di Gunung Gede. Nenek ini pula
yang memberikan ilmu secara aneh padanya.
Saat itu beberapa orang berdatangan ke
tempat kejadian itu, termasuk tukang rokok di
pinggir jalan. Si nenek menggerendeng.
"Anak setan, nanti aku datang lagi mene
muimu. Sekarang kau telan ini...." Begitu
berucap si nenek sumpalkan satu benda hitam
sebesar ujung ibu jari. Empuk-empuk pahit.
"Nek, kau menjejali aku tai kambing apa
racun?"
Si nenek tertawa cekikian. "Itu obat yan akan
menyembuhkan seluruh luka yang kau alami.
Sudah, jangan banyak tanya. Telan saja!
Namanya saja obat. Mana ada obat semanis
gulanya cendol! Hik... hik... hik!"
Si nenek cabut sesuatu dari pinggangnya.
"Ini satu lagi aku berikan padamu!"
Boma kerenyitkan keningnya.
"Apa ini Nek?" tanya Boma.
"Mana tahu aku apa ini namanya! Di
= Page 132 =
kampungku di puncak Gunung Gede tak pernah
ada benda beginian. Ambil. Pasti nanti ada
gunanya bagimu!"
Boma mengambil benda yang diberikan si
nenek. Ternyata benda itu adalah kaleng tipis
plat nomor mobil. Plat nomor polisi sebelah
belakang Toyota jip yang dikendarai lima
pengeroyok.
Ketika Boma masih bingung dan mau
bertanya, si nenek bau pesing telah lenyap dari
hadapannya.
TAMAT
SINTO GENDENG KELUAR SARANG
GUDANG besar penyimpanan berbagai m£
terial bangunan dalam keadaan sepi. Saati itu
semua pekerja sedang istirahat makan. Di pintu
gudang memang ada seorang penjaga tapi asyik
membaca buku porno hingga tidak menyadari
kalau seorang berpakaian aneh telah
menyelinap masuk ke dalam gudang.
Pangeran Matahari duduk di atas susunan;
= Page 98 =
kaleng-kaleng besar berisi cat tembok,
terlindung di balik timbunan kantong semen. Dia
tak habis pikir atas kejadian yang barusan
dialami. Begitu mudah orang mencuri sebuah
benda yang disimpannya dalam saku mantel.
Apakah dia telafl kehilangan ilmu kesaktian?
Rahangnya menJ gembung. Seharusnya dia
merasa malu bahkai) terpukul oleh kejadian itu.
Tapi dasar manusia dijuluki "Pangeran segala
cerdik segala akal, segala ilmu, segala licik,
segala congkak," walau kesal namun sikapnya
tenang-tenang saja. Hanya dalam hati dia
berkata.
"Tua bangka keparat pengamen itu. Dia pasti
bukan manusia biasa. Siapa dia sebenarnya?
Tokoh berkepandaian tinggi yang menyamar?
Bukan mustahil kemunculannya ada sangkut
paut dengan Pendekar Tahun 2000 yang
dikatakan guru. Jangan-jangan dia kaki tangan
Sinto Gendeng."
Dalam soal berpikir, kecerdikan dan
penggunaan akal Pangeran Matahari memang
hebat. Dia sudah bisa menduga kalau kakek
pengamen punya hubungan dengan. Sinto
Gendeng.
Baru saja Pangeran Matahari berkata dalam
hati tiba-tiba seorang bertangan kiri buntung,
bungkuk, berpakaian rombeng dengan wajah
sepucat kain kafan, muncul di hadapannya. Dua
= Page 99 =
mata yang terpuruk angker pada rongga dalam
memandang penuh marah pada sang Pangeran.
"Guru!" kaget Pangeran Matahari bukan
kepalang ketika dia mengangkat kepala dan
melihat siapa adanya orang tua itu. Buru-buru
dia berdiri lalu membungkuk memberi hormat.
"Murid tolol! Kecongkakanmu hari ini amblas
dalam comberan!" Begitu membuka mulut orang
tua yang bukan lain adalah Si Muka Bangkai
alias Si Muka Mayat menyemprot kasar.
Pangeran Matahari tentu saja sudah tahu
sebab apa si orang tua mendampratnya begitu
rupa. Tapi dasar licik panjdng akal dia berpura-
pura terkejut dan heran.
"Guru, gerangan apa sampai membuatmu
marah besar seperti ini? Murid menduga jangan-
jangan...."
Dari tenggorokan Si Muka Bangkai keluar
suara menggembor pertanda dia benar-benar
marah sekali.
"Pangeran goblok! Tutup mulutmu!”
Dibentak atau dihardik bagi Pangeran
Matahari bukan soal.. Tapi dimaki Pangeran
goblok membuatnya sakit hati. Kalau yang
memaki bukan gurunya saat itu juga pasti sudah
dirobek mulut atau dipecahkannya kepalanya.
Rahang menggembung, pelipis bergerak-gerak.
Pangeran Matahari menatap tajam wajah sang
= Page 100 =
guru.
"Untung aku berlaku waspada. Kalau tidak
Batu Penyusup Batin itu akan lenyap selama
lamanya."
"Guru, maafkan diriku. Apakah guru telah
menemukan kembali batu sakti itu? Batu itu aku
taruh dalam saku mantel. Tapi lenyap dicuri se
orang kakek pengamen."
"Selama ini kau terlalu sombong, terlalu
congkak...."
"Guru, tunggu dulu!" tiba-tiba Pangeran
Matahari berkata.
"Murid kurang ajar! Beraninya kau memotong
ucapanku!" hardik Si Muka Bangkai.
Pangeran Matahari tidak perduli. "Apa kau
lupa, guru? Bukankah kau sendiri ikut menanam
kan semua sifat itu di dalam diriku ketika kau
menggembleng aku di puncak Merapi?"
Dua mata Si Muka Bangkai yang ada dalam
rongga cekung seperti mau melompat keluar.
"Dasar kampret!"
"Kampret?!" Pangeran Matahari melotot
heran.
"Waktu dulu kau kutemukan di desa Sleman,
itu sebutan yang aku berikan padamu. Setelah
puluhan tahun berlalu ternyata kau masih saja
= Page 101 =
manusia kampret!"
Pangeran Matahari menatap muka pucat
sang guru, melirik pada tangan kirinya yang
buntung lalu tertawa gelak-gelak. (Untuk
mengetahui riwayat Pangeran Matahari harap
baca serial Wiro Sableng berjudul "Pangeran
Matahari")
Di pintu gudang, penjaga asyik membaca
buku porno turunkan buku yang dipegangnya,
memandang ke dalam gudang.
"Siapa yang tertawa...?" tanyanya dalam hati.
Dia turun dari tumpukan balok kayu, masuk
sampai beberapa langkah ke dalam gudang,
memperhatikan ke segala penjuru. Dia tidak
melihat siapa-siapa. Bulu kuduknya mendadak
merinding. "Jangan-jangan setannya si Tukijan,"
katanya dalam hati. Lalu cepat-cepat dia keluar
dari dalam gudang. Tukijan adalah buruh ba-
ngunan yang mati akibat kecelakaan sebulan
lalu. Jatuh dari tingkat empat gedung yang
tengah dibangun.
"Pangeran Matahari, kau dengar baik-baik.
Sejak kecil sifat segala licik, congkak sombong
bahkan kejam telah ada dalam dirimu! Mungkin
karena kau merasa diri sebagai seorang
Pangeran.
Mungkin juga itu sudah warisan darah daging
dari. orang tuamu!"
= Page 102 =
"Aku tidak pernah ingat siapa orang tuaku.
Aku tidak pernah kenal mereka sejelas aku
melihat dua telapak tanganku!" kata Pangeran
Matahari sambil memandang ke atas ke arah
atap seng gudang.
"Tidak heran! Tidak heran kalau kau juga
tidak tahu siapa dirimu sendiri!" tukas Si Muka
Bangkai yang membuat merah padam tampang
Pangeran Matahari. "Kecongkakan dan
kesombonganmu semakin berlipat ganda
setelah kau mewarisi semua ilmu kepandaian
dariku! Tapi hari ini semua akal licik,
kesombongan dan kecongkakanmu, seperti
kataku tadi, amblas dalam comberan ketololan!
Batu biru yang kuberikan padamu lenyap dicuri
orang. Dan tololmu lagi, kau menganggap si
pencuri adalah manusia biasa, pengamen tua
bangka! Kau tahu siapa orang itu?"
Tenang saja Pangeran Matahari gelengkan
kepala.
"Dia adalah mahluk berkepandaian tinggi,
tersesat dari negeri seribu dua ratus tahun
silam. Di negeri sana dia dikenal dengan nama
Si Pelawak Sinting. Di dunia sini dia muncul
sebagai kaki tangan Sinto Gendeng! Nenek
keparat dari Gunung Gede itulah yang telah
memperalatnya untuk mencuri Batu Penyusup
Batin yang ada dalam saku mantelmu!"
"Aku memang sudah menduga," kata
= Page 103 =
Pangeran Matahari sambil rangkapkan dua
tangan di depan dada. "Tapi tadi guru berkata
bahwa berkat kewaspadaan guru, batu sakti itu
tidak...."
"Batu yang asli! Batu Penyusup Batin yang asli
memang masih ada padaku! Yang kuberikan
padamu hanya batu tiruan. Batu kaivinanl Kalau
saja aku tidak berlaku cerdik melakukan hal itu,
batu yang asli sudah amblas dibawa kabur."
"Batu kawinan, aku tidak mengerti maksud
guru," kata Pangeran Matahari pula.
"Dalam keadaan seperti sekarang ini,
membawa batu asli tanpa mampu menjaganya
adalah sangat berbahaya. Banyak mata bisa
melihat, banyak tangan jahat bisa mengambil.
Itu sebabnya, batu yang asli aku ikatkan ke batu
tiruan. Selama satu minggu aku bersamadi.
Kesaktian yang ada dalam Batu Penyusup Batin
yang asli mengalir ke dalam batu tiruan. Namun
kekuatannya hanya dua tiga hari saja. Batu
tiruan itulah yang aku berikan padamu."
"Kalau begitu, guru, apakah kau masih punya
banyak batu tiruan?" tanya Pangeran Matahari.
"Kampret besar!" maki Si Muka Bangkai.
"Syukur...." ujar Pangeran Matahari.
"Eh, apa maksudmu berkata syukur?!" tanya
sang guru.
= Page 104 =
"Dulu aku dibilang kampret kecil. Sekarang
sudah jadi kampret besar. Salahkah kalau aku
bersyukur?"
Si Muka Bangkai mendelik besar lalu tertawa
gelak-gelak.
Di depan pintu gudang kembali si penjaga
tersentak kaget.
"Suara tertawa," katanya dalam hati. "Tapi
suaranya berbeda dengan yang pertama tadi...."
Untuk memeriksa kembali ke dalam gudang dia
merasa takut. Penjaga ini tinggalkan tempat itu
mencari teman-temannya.
"Pangeran Matahari, aku tidak membawa
batu tiruan. Aku punya cara lain untuk
membuatmu bisa menyusup ke dalam tubuh
seseorang.
Kekuatan dan kemampuannya lebih lama
dibanding batu kawinan. Mendekat ke sini."
Pangeran Matahari melangkah maju
mendekati sang guru. Kakek bungkuk masukkan
tangan kanannya ke balik baju rombeng. Sesaat
kemudian di tangan kanan itu tampak sebuah
benda memancarkan cahaya biru. Itulah Batu
Penyusup Batin asli yang diterimanya dari
gurunya Eyang Kunti Api. Dengan mulut
berkomat-kamit membaca mantera Si Muka
Bangkai usapkan Batu Penyusup Batin ke kepala
dan muka muridnya. Usapan turun ke leher,
= Page 105 =
dada, perut, dua paha dan dua kaki.
"Pejamkan matamu," perintah si kakek.
Pangeran Matahari pejamkan dua mata. Si
Muka Bangkai tempelkan batu sakti di kening
muridnya, di bawah ikat kepala kain merah.
Kembali dia berkomat kamit membaca mantera.
Saat itulah sang murid berkata.
"Guru, apakah kau mencium bau sesuatu?"
Tadinya Si Muka Bangkai hendak membentak
marah karena ucapan Pangeran Matahari
membuyarkan pemusatan perhatiannya. Tapi
ketika mengendus, dia memang membaui
sesuatu. Bau yang membuat jantungnya
berdetak keras dan tampangnya berubah
membesi. Bau pesing!
Karena sang guru tidak keluarkan jawaban,
Pangeran Matahari perlahan-lahan buka
sepasang matanya. Begitu mata dibuka, pada
saat itulah dari atas tumpukan kantong-kantong
semen di ujung kiri gudang, berkelebat satu
bayangan disertai menebarnya bau pesing yang
amat santar. Mendahului kelebatan bayangan
yang laksana terbang, melesat dua buah senjata
rahasia memancarkan cahaya putih.
"Guru! Awas serangan!" teriak Pangeran
Matahari. Cepat dia dorong dada Si Muka
Bangkai hingga kakek ini terjengkang jatuh.
Dalam kejutnya Batu Penyusup Batin yang
= Page 106 =
tadi ditempelkan di kening Pangeran Matahari,
tidak sempat digenggam kembali oleh Si Muka
Bangkai. Bersamaan dengan terjengkangnya
tubuhnya, batu yang terlepas dari pegangannya
itu ikut mental ke udara. Selagi Pangeran
Matahari membungkuk selamatkan diri dari
serangan dua senjata rahasia, sosok yang
melayang membuat gerakan berjumpalitan dua
kali berturut-turut, lalu menukik turun. Sambil
turun orang ini hantamkan kaki kirinya ke
punggung Si Muka Bangkai. Bersamaan dengan
itu tangan kanannya menyambar Batu Penyusup
Batin yang mental ke udara!
"Batu Penyusup Batin!" teriak Si Muka
Bangkai yang saat itu terkapar di lantai gudang.
Dia berusaha bangkit tapi roboh kembali.
Tendangan orang telah meremukkan tulang
punggungnya hingga selain menahan sakit luar
biasa kakek muka mayat ini juga kehilangan
keseimbangan.
Cepat sekali, begitu berhasil menangkap Batu
Penyusup Batin orang di atas sana kembali
membuat gerakan kilat, melesat ke arah celah
besar di dinding atas ujung kiri gudang.
"Bangsat berani mati!" teriak Pangeran
Matahari. Dalam keadaan setengah terduduk di
lantai dia hantamkan tangan kanannya. Sesaat
udara terasa redup. Lalu tiba-tiba berkiblat sinar
kuning, hitam dan merah. Menderu panas dan
= Page 107 =
ganas ke arah orang yang berkelebat di atas
sana. Jangankan tubuh manusia, tembok
bajapun akan hancur dihantam pukulan sakti
itu. Karena pukulan yang dilepaskan Pangeran
Matahari adala salah satu pukulan sakti paling
ditakuti dalam rimba persilatan yaitu Pukulan
Gerhana Matahari
Namun sasaran yang dihantam telah lebih
dulu lolos di balik celah dinding gudang. Begitu
Pukulan Gerhana Matahari melabrak dinding
gudang yang terbuat dari seng, tak ampun lagi
dinding itu hancur berantakan. Kepingan-
kepingan seng melesat tinggi ke udara
terbungkus nyala api. Bukan itu saja. Hawa
panas pukulan sakti membakar seluruh dinding
gudang yang masih utuh. Api merambat dengan
cepat, berkobar ganas karena dalam gudang itu
tersimpan berbagai bahan mengandung kimia
antara lain cat. Lalu di salah satu sudut terdapat
beberapa tabung gas yang biasanya
dipergunakan untuk mengelas. Kebakaran besar
serta merta menggegerkan kawasan itu.
Pangeran Matahari cepat menolong gurunya.
"Kita harus pergi sebelum api lebih besar.
Sebelum orang-orang masuk ke tempat ini!" kata
sang murid.
"Tunggu," jawab Si Muka Bangkai. Dia
melompat ke lantai di depan tumpukan tinggi
kayu triplek. Di lantai itu menancap dua buah
= Page 108 =
senjata rahasia yang tadi menyerang Pangeran
Matahari. Si Muka Bangkai mencabut dua benda
itu. Ketika diperhatikan, mukanya berubah
kelam. Ternyata benda itu adalah dua buah
tusuk konde perak.
"Tusuk konde perak! Siapa lagi pemiliknya
kalau bukan keparat Sinto Gendeng!"
Si kakek keluarkan suara menggerung.
Amarahnya bukan kepalang. Lebih lagi begitu
dia ingat bahwa si nenek itu juga yang tadi telah
merampas Batu Penyusup Batin.
"Nenek keparat itu. Dia keluar dari sarangnya.
. Kalau tidak segera dicegah, bahaya besar akan
mengancam diriku dan para tokoh golongan
hitam."
--oo0dw0oo--
11
BUKAN TRIPING BUKAN NGEPRIT
PULANG sekolah hari itu Boma dan teman-
temannya kecuali Gita Parwati kumpul di warung
bakso Mang Asep. "Heran” kata Boma. "Siapa
yang usil punya mulut kayak kompor dua belas
sumbu. Hampir semua anak Nusantara Tiga
udah pada tau kejadian Allan tripping. Malah
katanya ada guru yang juga udah tau. Gila
banget!"
= Page 109 =
Ronny langsung memandang pada Vino. "Vin,
kau yang liat Allan tripping. Kamu yang ceritain
sama kita-kita. Kamu ceritain sama anak lain
nggak."
"Sumpah Ron! Aku nggak cerita sama siapa-
siapa," jawab Vino.
"Mungkin kita perlu ngomong lagi sama Gita,"
berkata Rio sambil memperhatikan Ronny
mengeluarkan bungkusan rokok dari tasnya.
"Ron, lu jangan gila. Emang sih udah bubaran
sekolah. Tapi jangan ngacok berani ngerokok di
sini." Andi mengingatkan.
"Mulut gue asem banget!" jawab Ronny.
"Kalau asem kumur-kumur sono sama air
cucian mangkok baksonya Mang Asep." kata
Boma.
"Sial!" Ronny masukkan kembali rokoknya ke
dalam tas. Lalu bertanya. 'Bom, waktu kamu
ketemu Gita, 'tu anak bilang apa?",
"Katanya Allan bukan bangsa anak begituan.
Jangan kan tripping, nenggak minuman keras
aja nggak, ngerokok juga nggak. Malah dia
bilang Vino ngarang."
"Wah, kalau gitu gua musti ikutan ngomong
sama dia," kata Vino. "Buktinya sekarang kok
udah dua hari si Allan nggak masuk-masuk."
"Aku rasa dia pindah sekolah gara-raga yang
= Page 110 =
beginian juga. Ketauan ngeprit." Ucap Firman.
"Bisa jadi," menyahuti Andi.
"Besok kalau Si Allan masih belon masuk, aku
mau ngomong lagi sama Gita. Di, kau sama Vino
musti ngelacak. Siapa yang punya mulut jahil
sampai kejadian ini bocor. Bukan cuma anak-
anak kelas lain yang tau, tapi juga guru."
"Kalau ngomong sama Gita, kamu musti hati-
hati Bom," kata Ronny.
"hati-hatinya?"
"Belakangan aku liat 'tu anak sering ngela-
mun. Nggak mau gabung sama kita-kita.
Kelihatannya jadi sensitip. Gampang
tersinggung..."
"Mungkin lagi mens 'kali," kata Vino.
"Perempuan kalau lagi dateng bulan sifatnya
kadang-kadang 'kan aneh-aneh!"
"Sok tahu lu Vin!" sembur Andi. "Kayak lu
udah pernah ngalamin mens aja!"
"Sialan! Emangnya gue cewek!" jawab Vino.
Semua anak tertawa riuh.
SIANG itu, waktu jam istirahat, Kelas II-9 sepi.
Di dalam kelas hanya ada Gita Parwati duduk
sendirian. Asyik membaca majalah. Boma berdiri
di sudut pintu, memperhatikan. Dia menduga
= Page 111 =
Gita tahu kalau dia berdiri di situ
memperhatikan, tapi pura-pura terus membaca.
Ronny dan teman-teman yang berdiri di ujung
kelas sebelah luar memberi isyarat agar Boma
segera masuk dan bicara dengan Gita. Boma
akhirnya masuk ke dalam kelas.
"Asyik banget Git, pasti majalah porno," Boma
menegur. Sengaja memancing dengan ucapan
seperti itu untuk melihat reaksi Gita.
"Enak aja lu," jawab Gita. "Liat dulu!" Gita
mengangkat majalah yang dibacanya,
memperlihatkan cover depan. Ternyata sebuah
majalah pelajar bahasa Inggris.
"Git, aku mau ngomong," kata Boma.
"Aku udah tahu. Ngomong aja..."
"Gimana kabarnya Allan?"
"Baik."
"Baik? Kok masih nggak masuk?"
"Baik bukan berarti sehat 'tau."
"Beneran sakitnya apa sih?" tanya Boma lagi.
"Mana aku tau Bom. Tanya sama dokternya
atau sama ortunya."
"Kamu 'kan sering kesana."
"Siapa bilang?" Gita angkat kepala dari
majalah yang dibacanya, menatap Boma
= Page 112 =
sebentar lalu kembali memandang ke majalah di
atas meja.
Boma merapatkan badannya ke samping
meja. Lalu pegang lengan Gita. Dia merasakan
denyutan cepat sekali pada urat nadi di lengan
temannya ini.
"Git,, jujur aja. Kau tau si Allan itu ngeprit?".
"Itu lagi yang diomongin. Kemarin aku udah
bilang. Dia bukan bangsa cowok gituan Bom."
Gita menjawab, tapi melengos, tidak berani
memandang mata Boma.
"Aku nggak ada maksud apa-apa Git. Kita 'kan
teman. Aku kasian sama kamu, sama Allan."
"Buat apa ngasianin orang kayak aku Bom?
Tapi ya makasih untuk pengasianannya," jawab
Gita.
"Git, keadaan mungkin tidak seperti yang
kami duga. Tadi pagi aku liat orang tua Allan
menemui Kepala Sekolah."
"Biar aja. Biar jelas semuanya..."
"Kamu ngebelain Allan nggak tanggung-
tanggung. Memangnya kamu cintrong banget
sama dia?" tanya Boma.
Gita diam. Tatapannya ke wajah Boma seperti
ingin menyampaikan suara hatinya. Ketika
akhirnya anak perempuan ini menjawab,
= Page 113 =
suaranya terdengar perlahan.
"Habis, siapa sih yang suka sama aku Bom?
Gendut, item. Jelek begini. Allan selalu meratiin
aku. Memang sih dia nggak pernah bilang
sayang sama aku. Tapi aku tau perasaan kami
sama."
Boma terdiam. Hatinya sangat tersentuh.
Perasaan haru biru merenyuh lubuk kalbunya
Ditowelnya hidungnya. Lalu dilihatnya ada air
mata meggelinding jatuh dari tanggul kelopak
mata anak perempuan itu. Kalau sudah begini
Boma jadi tidak tahan.
"Bom...."
"Udah Git, nanti kita ngomong lagi. Kalau
ketemu Allan bilang salam dari teman-teman."
"Aku tau kamu dan teman-teman semua
baik..." Gita menyeka air matanya. "Bom..."
Tapi Boma sudah keluar dari dalam kelas.
--oo0dw0oo--
KETIKA lonceng tanda jam pelajaran
berikutnya dimulai, yang masuk ke dalam Kelas
II-9 bukannya guru Fisika, tetapi guru bahasa
Inggris Ibu Renata.
"Selamat siang Bu," anak-anak satu kelas
memberi salam.
"Selamat siang," jawab Ibu Renata. Sejak
= Page 114 =
sakit ini kali pertama dia masuk ke Kelas II-9.
Badannya agak susut sedikit namun tidak
mengurangi kecantikannya. Sesaat dia
memandang berkeliling, memperhatikan bangku
yang kosong, bangkunya Allan. Lalu melirik ke
sudut kelas sebelah kiri di mana Boma duduk.
Firman yang duduk di sebelah Boma langsung
berbisik.
"Boma, kamu dilirik sama Ibu Renata..."
"Kamu 'kali yang dilirik, bukan aku." Jawab
Boma. Dua anak ini sama-sama menutupi mulut
menahan tertawa.
"Sudah sembuh 'Bu?" Tiba-tiba seorang anak
bertanya.
Ibu Renata anggukkan kepala, tersenyum
sedikit dan sekilas kembali melirik ke sudut kiri
kelas.
"Sakitnya apa sih Bu?" seorang anak lain
bertanya.
Yang menjawab teman di belakangnya. "Ah,
mau tau aja sakitnya Ibu Renata. Emangnya
kamu dokter?"
"Dukun, kali!" menimpali suara anak
perempuan. Yang bicara ternyata adalah Si
Centil Sulastri, anak baru pindahan dari
Semarang. Suara tawa terdengar di mana-mana.
Ibu Renata juga tertawa walau kelihatan agak
= Page 115 =
dipaksakan.
"Anak-anak, saya mewakili Wali Kelas II-9
yang hari ini berhalangan hadir. Saya
meneruskan permintaan dari Bapak Kepala
Sekolah, Bapak Nugroho, untuk menyampaikan
pesan atau pemberitahuan. Hal ini sehubungan
dengan sakitnya teman kalian Allan."
Sampai di situ Ibu Renata berhenti sebentar.
Apa yang barusan dikatakannya menimbulkan
berbagai dugaan di hati dan benak anak-anak
Kelas II-9. Banyak dari anak-anak itu mengira^
setelah diketahui tripping di sekolah Allan akan
dikeluarkan atau minta keluar. Itu sebabnya pagi
tadi ayah Allan datang menemui Kepala Sekolah.
Hampir semua mata ditujukan pada Gita. Anak
perempuan ini hanya bisa tundukkan kepala
sambil mencungkil-cungkil kuku jari tangannya.
"Anak-anak..." Ibu Renata meneruskan
ucapannya. "Sebelumnya pada Kepala Sekolah
telah masuk laporan bahwa Allan diketahui
tripping di sekolah..."
"Siapa yang melapor Bu?" Tiba-tiba ada yangi
bertanya. Boma.
Ibu Renata memandang ke sudut kiri Kelas; II-
9. Dia menatap ke arah Boma sebentar lalu
mengalihkan pandangan ke jurusan lain seraya
berkata. "Siapa yang melapor tidak perlu kalian
ketahui. Yang penting kalian ketahui adalah
= Page 116 =
bahwa Allan sama sekali tidak melakukan
tripping. Dia tidak minum obat terlarang..."
Kelas II-9 sesaat dicekam kesunyian. Semua
anak seperti tidak percaya mendengar kata-kata
Ibu Renata itu. Ketika banyak mata diarahkan
kembali pada Gita Parwati, anak-anak di bangku
terdekat saling berbisik.
"Liat, si Gita nangis..."
Saat itu Gita Parwati duduk menundukkan
kepala. Sehelai sapu tangan dipergunakan
menutupi sebagian wajah, terutama sepasang
matanya.
"Memang ada yang melihat Allan menelan
sesuatu, minum segelas Aqua lalu goyang-
goyang kepala di sekolah. Tapi saat itu
sebenarnya dia bukan sedang tripping. Bukan
menelan ecstasy. Melainkan minum obat. Obat
dari dokter. Di dapat berdasarkan resep dokter.
Anak-anak, Kepala Sekolah minta saya
menyampaikan, memberi tahu pada kamu
bahwa Allan sejak lama menderita penyakit
epilepsi..."
Epilepsi apa-an sih Di," tanya Rio yang duduk
di sampingnya. "Sipilis ya?"
Andi menutupi mulutnya menahan ketawa.
"Epilepsi aja nggak tau. Anak sekolah malu-
maluin. Ngakunya kelas dua lagi..."
= Page 117 =
"Gue 'kan bukannya dokter!" Rio jadi sengit.
"Epilepsi sama dengan ayan. Tau nggak?!"
Diberi tahu Rio cuma ngangguk sambil
monyongkan mulut.
"Kalian mungkin banyak yang tidak tahu
penyakit ini. Sebab dan jenisnya bermacam-
macam. Allan rentan terhadap udara pengap,
terutama di tempat-tempat ramai, rentan
terhadap stres. Penyakitnya bisa kambuh tidak
terduga. Ketika ada yang melihat dia menelan
sesuatu dan meneguk Aqua, sebenarnya dia
tengah minum obat dokter. Jadi anak-anak,
sekali lagi saya menyampaikan pesan Kepala
Sekolah. Allan bukan pecandu obat terlarang.
Dia tidak pecandu ecstasy atau obat apapun.
Sekarang dia masih istirahat di rumah. Kita
doakan agar dia segera masuk sekolah lagi..."
"Amin!" beberapa anak mengamini.
Saat itulah Boma, Firman dan Andi, disusul,
Ronny dan Rio mendatangi Gita yang seseng-*1
gukan di bangkunya. Anak-anak lain melakukah
hal yang sama. Gita dikerubungi. Anak-anak
perempuan menciumnya. Termasuk Sulastri.
Trini satu-satunya anak perempuan yang hanya
tegak tertegun dan tak beranjak di bangkunya.
Boma pegang tangan Gita dengan tangan
kanan. Tangan kiri mengusap punggung anak
perempuan itu.
= Page 118 =
"Git maapin aku Git. Maapin juga teman-
teman. Tadinya kami udah nyangka yang nggak-
nggak sama Allan..."
Sesenggukan Gita berubah jadi tangis
mengharukan. Dia mengangkat kepalanya,
menurunkan sapu tangan yang menutupi dua
matanya sedikit. Diantara isakannya anak
perempuan ini berkata.
"Bom, sebenarnya aku sudah tau lama
sakitnya Allan. Tapi aku mau bilang sama kalian
nggak tega. Akibatnya dia dituduh tripping..."
"Sekarang udah nggak lagi Git," kata Ronny.
Ibu Renata sesaat masih berdiri di depan
kelas memperhatikan semua simpati yang
diberikan anak-anak pada Gita. Kemudian dia
memberi isyarat pada Boma. Melihat isyarat ini
Boma datang mendekat.
"Ibu manggil saya?" tanya Boma.
"Selesai sekolah, kamu Ibu tunggu di kantor."
"Baik Bu."
"Jangan lupa."
"Iyya Bu."
Ketika anak-anak yang' mengerumuni Gita
bubar dan Boma kembali ke bangkunya, kini
Boma yang mereka kerumuni.
= Page 119 =
Ronny bertanya.
"Ibu Renata ngomongin apa sama kamu?"
"Pulang sekolah dia suruh aku datang ke
kantor."
"Ngapain?" tanya Firman.
"Nggak tau," jawab Boma sambil menowel
hidung. "Yang jelas sikapnya dingin. Belum
pernah aku liat Ibu Renata seperti itu."
"Jangan-jangan dia tau kita pada kasak-kusuk
curiga sama si Allan," kata Vino.
"Kalau memang begitu berarti kamu yang
dipanggil Vin, bukan Boma. Kamu yang pertama
kali ngeliat Allan, nyangka dia lagi tripping," kata
Andi pula.
Boma menowel hidungnya. "Kayaknya ada
soal lain yang mau diomongin Ibu Renata. Tapi
aku nggak tau soal apa."
Semua anak memandang pada Boma. Ronny
hendak mengatakan sesuatu tapi saat itu guru
Fisika sudah masuk ke dalam kelas.
--oo0dw0oo--
12
SUMPAH BOMA - AIR MATA IBU RENATA
HUJAN turun rintik-rintik ketika Boma
melangkah seorang diri menuju Kantor Sekolah.
= Page 120 =
Di Ruang Tamu Kepala Sekolah beberapa orang
guru duduk bercakap-cakap. Mereka kemudian
meninggalkan tempat itu sebelum hujan
berubah lebat. Ketika berpapasan, Boma segera
memberi hormat.
Di Ruang Guru Ibu Renata duduk seoran diri
di belakang meja sambil menulis. Dia ber henti
menulis ketika melihat Boma muncul di ambang
pintu.
"Selamat siang Bu," Boma memberi salam.
Ibu Renata menjawab dengan anggukan kepala.
Wajahnya tidak cerah seperti biasa mungkin
karena habis sakit. Sikapnya masih kelihatan
dingin. Guru Bahasa Inggris ini menunjuk ke
bangku di depan mejanya, memberi isyarat agar
Boma duduk di situ.
Boma duduk.
Ibu Renata meneruskan menulis sesuatu lalu
meletakkan bolpen di atas meja, melipat kertas
yang barusan ditulis, memasukkan ke dai am
tas.
"Boma."
"Ya Bu."
"Kamu masih ingat. Waktu di kelas satu saya
pernah ngajak kamu sama-sama nonton film...."
"Ya Bu, saya ingat," jawab Boma.
= Page 121 =
"Saat itu kamu menolak."
Boma mengangguk. "Benar Bu," katanya
kemudian.
Ibu Renata diam.
Boma memberanikan diri bertanya. "Ibu
marah saya menolak?"
"Film yang saya mau lihat itu bukan cuma
bagus. Tapi banyak kesamaannya dengan
kehidupan saya...." Guru Bahasa Inggris itu diam
kembali. Lalu gelengkan kepala. "Tidak, saya
tidak marah kamu menolak. Yang saya tidak
menduga dan benar-benar marah, mengapa
kamu menyebarkan, memberi tahu orang lain
bahwa saya pernah mengajakmu nonton."
Boma tercengang. Ditatapnya wajah cantik
Guru Bahasa Inggris itu.
"Bu, saya nggak pernah cerita sama siapa-
siapa kalau Ibu ngajak saya nonton."
"Jangan dusta Boma. Kamu menyebar
omongan...."
"Sumpah Bu. Saya nggak pernah nyebar-
nyebar omongan begitu...."
Dalam wajah yang tetap dingin Ibu Renata
tunjukkan air muka tidak percaya. Matanya
mulai merah. Dia berusaha keras membendung
tangis. Tapi isakannya tak tertahankan lagi. Dua
telapak tangannya ditutupkan ke mukanya.
= Page 122 =
Bahunya bergoncang turun naik.
"Saya tidak menyangka seburuk itu budi
pekertimu. Kalau kau tidak suka. sama Ibu,
jangan ceritanya disampaikan sama orang lain."
"Sumpah Bu," kata Boma. "Jangan bersumpah
Boma. Saya paling benci pada orang yang suka
mengangkat sumpah tapi ternyata palsu...." "Bu,
saya...." "Tidak mungkin Boma. Tidak mungkin.
Waktu kita bicara pada akhir jam pelajaran hari
Sabtu itu, hanya kita berdua di dalam kelas.
Tidak ada orang lain. Tidak ada siapa-siapa. Lalu
bagaimana ceritanya jadi tersebar kalau bukan
kamu sendiri yang melakukan? Saya malu
sekali. Malu sekali Boma. Mungkin, mungkin
saya terpaksa minta berhenti mengajar di
sekolah ini. Saya akan keluar...."
"Jangan Bu. Jangan minta berhenti. Jangan
keluar," kata Boma.
Ucapan polos anak ini membuat air mata
yang sejak tadi terbendung menggelinding jatuh
ke pipi putih Ibu Renata. Isak tangis perempuan
ini semakin keras. Boma memandang ke arah
pintu.
Dia takut saat itu ada guru atau orang lain
yang melihat.
"Bu, bagaimana Ibu tau kalau saya menyebar
cerita itu? Ada yang melapor?" Boma tiba-tiba
ajukan pertanyaan.
= Page 123 =
"Kamu tidak perlu tau siapa yang memberi
tahu, siapa yang melapor. Pak Nugroho Kepala
Sekolah tadi pagi memanggil saya. Dia tau cerita
itu karena katanya sudah tersebar di antara
anak-anak sekolah, di antara para guru. Kamu
tahu apa yang Pak Nugroho bilang?"
Boma menggeleng.
"Kamu mau tahu?"
Boma tak berani menjawab.
"Pak Nugroho bilang apa yang saya lakukan
sangat tidak pantas. Seorang guru perempuan
mengajak muridnya menonton! Bukan saja
merupakan satu tindakan yang keliru, tapi juga
merusak image guru."
Ibu Renata menyeka air mata yang semakin
banyak bercucuran.
Boma mulai bingung. Dia bangkit dari bangku.
Hendak dipegangnya tangan Ibu Renata. Dia
takut. Akhirnya ditowelnya hidungnya sendiri lalu
melangkah keluar Ruangan Guru. Di pintu anak
ini hentikan langkahnya dan membalik. Untuk
beberapa lamanya dipan-danginya Guru Bahasa
Inggris itu. Sikap dingin masih belum pupus dari
wajah perempuan muda itu.
"Pergi Boma, pergilah...." kata Ibu Renata
sambil melambaikan tangan menyuruh Boma
pergi.
= Page 124 =
Tapi Boma tidak beranjak dari tempatnya
berdiri.
"Ibu Renata, sekali lagi saya sumpah. Saya
tidak berbuat sejahat itu."
Ibu Renata geleng-gelengkan kepala.
"Kalau sumpah saya palsu, biar saya nggak
selamat."
Habis berkata begitu Boma menowel
hidungnya sampai tiga kali lalu membalikkan
badan, melangkah cepat-cepat meninggalkan
Ruang Guru.
Setelah Boma keluar dari ruangan guru, Ibu
Renata masih tertegak di belakang meja.
Ucapan Boma terngiang di telinganya.
"Kalau sumpah saya palsu, biar saya nggak
selamat."
"Berani sekali. Seberani itu dia bersumpah,"
kata Ibu Renata dalam hati.
--oo0dw0oo--
BOMA berjalan sambil memukul-mukulkan
tinju kanannya ke dalam telapak tangan kiri.
"Ajie Gilel" Kenapa jadi begini urusannya?
Musti gua selidikin siapa yang punya kerjaan!"
Saat itu Boma ingin sekali ada kawan-
kawannya yang masih belum pulang. Ingin sekali
dia menceritakan apa yang barusan dibicara-
= Page 125 =
kannya dengan Ibu Renata. Mungkin dengan
menyampaikan hal itu dadanya bisa lega,
perasaannya bisa tenang. Namun baik Ronny,
Firman, Vino, maupun Andi dan Rio, tak satupun
yang ada di sekolah. Semua sudah pulang.
Boma berdiri di pintu gerbang sekolah. Suara
deru motor yang bising membuat dia berpaling.
Guru Olahraga Bapak Sanyoto lewat dengan
sepeda motor yang bocor kenalpotnya.
"Siang Pak," kata Boma sambil anggukkan
kepala.
Mungkin tidak melihat, mungkin juga tidak
mendengar salam anak muridnya, Guru
Olahraga itu lewat saja tanpa menjawab hormat
Boma.
"Nggak denger sih mungkin," kata Boma jadi
kesal karena penghormatannya seolah tidak
diacuhkan. "Budek sih mungkin. Soalnya 'tuh
motor udah kayak suara speed boat aja. Tapi
buta jelas nggak. Rugi gua ngasih hormat.
Sialan! Tapi udahlah. Buat apa aku pikirin."
Borna menowel hidungnya.
Langit semakin gelap. Hujan rintik-rintik
berubah lebat. Boma tutupi kepalanya dengan
tas, melangkah tinggalkan pintu gerbang
sekolah. Tapi langkahnya tertahan ketika di
belakangnya ada suara deru mobil. Menoleh ke
belakang sebuah Suzuki Katana putih meluncur
= Page 126 =
perlahan. Di belakang kemudi duduk Ibu Renata.
Hujan lebat turun mendera. Boma masih
tegak di pintu gerbang berpayung tas sekolah.
Suzuki
Katana lewat di sampingnya. Saat itu ingin
sekali Boma melihat Ibu Renata menurunkan
kaca jendela kiri Suzuki Katana, ingin sekali
mendengar Guru Bahasa Inggris itu
menyapanya.
"Boma, ayo ikutan sama saya...."
Namun harapan itu hanyalah suara hati Boma
Tri Sumitro sendiri. Suzuki Katana meluncur
melewatinya. Boma baru sadar dan beranjak
dari pintu gerbang sekolah setelah sekujur tubuh
dan pakaiannya basah kuyup.
HONDA Tiger merah berhenti di ujung gang
"Di sini aja Ron. Nggak usah masuk," kata
Boma. Begitu motor berhenti Boma segera
turun.
"Aku juga males masuk Bom. Takut didamprat
kakek tetangga kamu itu. Dikit-dikit mau
ngeguyur kepala gua sama air kencing. Padahal
gue rasa 'tu kakek boro-boro kencing, kentut aja
udah nggak bisa!"
Boma tertawa lebar mendengar ucapan
Ronny Celepuk.
"Besok hari Minggu gimana?" tanya Ronny
= Page 127 =
"Jadi ke rumah Allan?"
"Boleh, tapi awas lu, jangan keliwat siang Janji
pagi dateng siang, siang dateng sore. janji
malem bisa-bisa lu dateng subuh."
Ronny menyengir. Boma lambaikan tangan.
Anak ini tengah berjalan ke tukang rokok
diseberang jalan untuk membeli Gudang Garam
Filter pesanan ayahnya ketika tiba-tiba dari arah
belakang sebuah Toyota Hardtop berhenti. Dua
orang keluar dari sebelah depan, tiga lainnya
melompat dari bagian belakang kendaraan.
Boma yang mendadak mendapat firasat tidak
enak, cepat menyeberang, melangkah ke arah
tembok tinggi sebuah bangunan. Karena mau
berbalik dan masuk ke gang. Di mulut gang
sudah dihadang dua dari lima orang yang
barusan turun dari jip. Anak lelaki ini sekarang
ingat. Toyota jip itu sebelumnya mengikuti dia
dan Ronny lalu lenyap di satu tikungan jalan.
Tahu-tahu kini muncul di belakangnya. Dugaan
Boma tidak keliru. Dia mendengar ada suara
seseorang berkata.
"Bener dia Fred! Sayang temannya udah
pergi!"
Fred. Boma ingat. Itu nama lelaki berewok
yang memukulinya di toilet Gramedia. Dan suara
orang yang barusan bicara sama dengan suara
temannya si berewok. Boma mencapai tembok,
= Page 128 =
membalik. Lima orang berdiri di hadapannya. Si
berewok di tengah-tengah.
"Jagoan tengik! Gua mau liat kehebatan lu
sekali lagi!" si berewok membuka mulut. Dia
memberi isyarat dengan gerakan tangan. Empat
orang temannya, dua di kiri dua di kanan tanpa
banyak bicara langsung menyerbu Boma.
Perkelahian tidak seimbang segera terjadi.
Walau mampu melayangkan tinjunya
beberapa kali dengan telak ke arah lawan
namun dengan cepat Boma terdesak. Lebih-
lebih setelah si berewok ikut membantu empat
temannya.
Pedagang rokok yang melihat kejadian itu
berteriak kaget. Tapi kembali masuk ke dalam
kios rokoknya dengan ketakutan ketika dua
orang penyerang mengancam.
"Berani macem-macem gua bakar kios lu!"
ancam salah seorang pengeroyok.
Darah mengucur dari hidung dan mulut
Boma. Kakinya mulai goyah. Ketika satu jotosan
melanda perutnya dan satu tendangan
menghajar tulang kering kaki kirinya, anak ini
langsung roboh.
"Abisin! Bikin mampus!"
"Jangan dibunuh Fred! Nanti jadi urusan!"
"Bunuh! Urusan belakangan!" kata si berewok.
= Page 129 =
Lalu dia mengeluarkan sebilah belati dari
pinggangnya, diserahkan pada salah seorang
temannya.
Pada saat itulah -seperti kejadian di toilet
toko buku Gramedia- Boma tiba-tiba merasakan
ada hawa dingin di tengkuknya. Tubuhnya
bergeletar panas. Nafasnya seperti membara.
Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat ke
atas. Lima orang yang mengeroyoknya sama
terkejut. Dua orang berlaku lengah. Tinju Boma
bersarang di hidung lelaki sebelah kanan.
"Praakk!"
Orang ini meraung keras. Tulang hidungnya
pecah. Darah mengucur deras.
Korban kedua muntah darah ketika
tendangan Boma mendarat di dadanya. Orang
ini langsung jatuh terduduk, mengerang
kesakitan beberapa lamanya lalu susah payah
berusaha berdiri.
Lelaki yang memegang belati tusukkan
senjata di tangan kanannya ke perut Boma.
Nasibnya tak kalah jelek dari dua temannya.
Tinju kanan Boma menyodok ulu hatinya. Orang
ini megap-megap sambil pegangi perut.
Belatinya jatuh entah ke mana. Boma melompat.
Tangan kiri dihantamkan ke kening orang.
Seekor burung putih, entah dari mana
datangnya, terbang di atas tempat terjadinya
= Page 130 =
perkelahian lalu hinggap di cabang pohon dekat
kios rokok.
Sesaat lagi tangan kiri Boma akan
menghantam batok kepala orang yang tadi
hendak menikamnya dengan belati, tiba-tiba
Boma merasa ada yang mencekal lengan kirinya.
Bersamaan dengan itu ada suara berkata.
"Anak setan! Kau membunuh orang dengan
tangan mautmu? Apa kau lupa telapak tangan
kirimu ada tanda silang, tanda kematian? Apa
kau lupa tangan kirimu sudah kuisi ilmu
kesaktian?!"
Boma terkejut. Dia memandang ke kiri dan
kanan. Dia tak melihat orang yang bicara. Anak
ini mencium bau pesing. Dia coba berontak. Tapi
tak mampu lepaskan diri dari cekalan tangan
yang tak kelihatan.
Boma kemudian mendengar seseorang
berteriak.
"Fred! Cabut Fred!"
Lima orang pengeroyok berhamburan naik ke
atas Toyota Hardtop. Kendaraan itu tancap gas,
lenyap dalam beberapa detik saja.
Boma tersurut mundur ketika di depannya
kelihatan satu sosok samar bungkuk sementara
bau pesing tercium makin santar. Sosok samar
perlahan-lahan kelihatan semakin nyata. Boma
= Page 131 =
tambah tersurut.
"Nek...." Boma mengenali. Nenek hitam
bermuka kulit pembungkus tulang dengan lima
tusuk konde di atas batok kepalanya. Nenek
inilah yang menolongnya sewaktu ditimpa
malapetaka di Gunung Gede. Nenek ini pula
yang memberikan ilmu secara aneh padanya.
Saat itu beberapa orang berdatangan ke
tempat kejadian itu, termasuk tukang rokok di
pinggir jalan. Si nenek menggerendeng.
"Anak setan, nanti aku datang lagi mene
muimu. Sekarang kau telan ini...." Begitu
berucap si nenek sumpalkan satu benda hitam
sebesar ujung ibu jari. Empuk-empuk pahit.
"Nek, kau menjejali aku tai kambing apa
racun?"
Si nenek tertawa cekikian. "Itu obat yan akan
menyembuhkan seluruh luka yang kau alami.
Sudah, jangan banyak tanya. Telan saja!
Namanya saja obat. Mana ada obat semanis
gulanya cendol! Hik... hik... hik!"
Si nenek cabut sesuatu dari pinggangnya.
"Ini satu lagi aku berikan padamu!"
Boma kerenyitkan keningnya.
"Apa ini Nek?" tanya Boma.
"Mana tahu aku apa ini namanya! Di
= Page 132 =
kampungku di puncak Gunung Gede tak pernah
ada benda beginian. Ambil. Pasti nanti ada
gunanya bagimu!"
Boma mengambil benda yang diberikan si
nenek. Ternyata benda itu adalah kaleng tipis
plat nomor mobil. Plat nomor polisi sebelah
belakang Toyota jip yang dikendarai lima
pengeroyok.
Ketika Boma masih bingung dan mau
bertanya, si nenek bau pesing telah lenyap dari
hadapannya.
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar